Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

Sendok Dan Garpu Juga Memiliki Sejarah

Sendok adalah alat makan yang memiliki cekungan berbentuk oval atau bulat lonjong di satu ujung dan gagang di ujung lainnya. Di Indonesia sendok umumnya dipegang di tangan kanan untuk mengambil makanan dari piring atau mangkuk dan menyuapkannya ke mulut, sementara garpu yang dipegang di tangan kiri membantu memasukkan makanan ke sendok.

Pada Zaman dahulu bentuk dari sendok ini tidak sama dengan bentuk sendok yang kita kenal sekarang ini bahkan bentuk sendok Zaman dahulu cenderung berbentuk tidak Lazim. Konon bangsa pertama yang menjadi pelopor dan pencipta sendok dengan desain yang kita kenal sekarang adalah Bangsa Romawi kurang lebih pada abad pertama Masehi. Ada dua jenis sendok yang mereka buat yaitu “Ligula” dengan ujung yang bulat seperti mangkuk dengan pegangan beraneka bentuk, Ligula ini biasa mereka gunakan untuk makan makanan seperti sup atau makanan berkuah. Satu lagi adalah yang disebut “Cochleare”, bentuknya kecil dengan ujung bulat dengan pegangan yang ramping. Cochleare biasa mereka gunakan untuk makan kerang dan telur.

Pada perjalanan sejarahnya konon Sendok telah dipakai sejak Zaman Paleolitikum, namun bentuk dan bahannya yang digunakan jelas tidak seperti sendok yang kita kenal sekarang. Pada masa tersebut Sendok terbuat dari bahan Kulit kerang, Kulit kayu, bahkan dari daun-daunan. Perkakas tersebut mereka gunakan untuk menciduk air atau makanan yang berkuah.

Oleh karena bahan Sendok yang terbuat dari berbagai macam bahan maka sebutan untuk sendok-pun bermacam-macam, tergantung dari bahan apa sendok tersebut dibuat.
Di dalam Bahasa Yunani dan Bahasa Latin Sendok disebut dengan “Cochlea” yang berarti “Kulit Kerang berbentuk Spiral”. Lain Yunani lain pula masyarakat Anglo-Saxon, mereka cenderung menyebut sendok dengan istilah “Spon” yang berarti “Serpihan atau Potongan kayu”. Istilah Spon inilah yang kemudian dikenal oleh bangsa Eropa dan bangsa-bangsa lainnya yang dalam bahasa Inggris disebut dengan “Spoon”.
Pada perkembangan selanjutnya sendok tidak hanya dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti kerang ataupun kayu, sendok-pun dapat dibuat dari bahan Tulang, Tanduk, Keramik, Porselen, Kristal, seiring dengan penemuan bahan logam maka bahan pembuatan sendok-pun bergeser menjadi terbuat dari logam seperti Besi, campuran timah dan gading, Perak bahkan dari Emas.
Pasangan dari sendok adalah Garpu, konon umur dari garpu ini lebih muda dibandingkan dengan sendok, namun catatan sejarah mengatakan bahwa peralatan seperti garpu ini telah digunakan oleh masyarakat di Timur Tengah sejak seribu tahun sebelum Masehi. Ketika itu disebutkan bahwa bentuk dari garpu ini adalah bercabang lima. Di Timur tengah Pada Abad ke-VII garpu digunakan pada acara-acara kenegaraan. Penggunaan garpu ini terus berkembang penggunaannya dan meluas sekitar Abad ke-X di kalangan atas Kerajaan Byzantium.
Diceritakan bahwa Kerajaan Byzantium mengenal peralatan garpu ini setelah Domenico Salvo seorang ahli waris Imperium Doge dari Venesia menikah dengan seorang putri dari kerajaan Byzantium, konon saat itu Domenico Salvo membawa dua buah garpu di dalam kopernya.
Didalam perjamuan Pada abad ke-X, penggunaan garpu ini tidak ditata diatas meja, melainkan diberikan pada tamu yang duduk di meja perjamuan untuk menahan daging yang akan dipotong, dan lalu kemudian daging yang telah dipotong tersebut dimakan dengan cara memasukannya ke mulut dengan tangan. hal ini lazim dilakukan pada masa tersebut, justru apabila seorang tamu memasukan potongan daging ke mulut menggunakan garpu, hal ini akan menjadi bahan tertawaan dan celaan orang lain karena hal ini dianggap tidak sopan.
Di awal abad ke-XVI garpu mulai masuk ke Italia hingga pada perkembangan selanjutnya garpu masuk ke Perancis dibawa oleh Catherine dan Medicis yang menikah dengan King Henry II pada tahun 1533. sedangkan di Inggris garpu mulai dikenal pada awal-awal abad ke-XVII, konon hal ini karena Thomas Corryate membawa garpu yang dibelinya di Italia.
Perkembangan Garpu sangat lambat dan bahkan garpu dianggap sebagai barang berharga daripada sebagai alat makan. Karena hal inilah garpu lebih banyak disimpan dan dipamerkan sebagai barang kebanggaan. Bahkan di Inggris yang terkenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi tatakrama menganggap garpu bukanlah sebagai alat makan yang penting dan bahkan kalangan bangsawan disana memakai garpu hanya sekali saja sebagai ajang pamer kekayaan, hal ini karena garpu tersebut terbuat dari emas dan menjadi barang yang mewah dan berharga. Garpu hanya dipakai pada jamuan-jamuan istimewa saja untuk menghormati para tamu kerajaan.
Bentuk pertama dari garpu hanya mempunyai dua cabang dan agak lebar, ini didesain untuk memastikan daging tidak jatuh saat dipotong namun tentu saja menyulitkan apabila daging atau makanan yang dipotong berukuran kecil. Oleh karena itulah model lama ini kemudian di desain ulang dan disempurnakan dengan menambah cabang menjadi empat, garpu dengan cabang empat ini mulai diperkenalkan pada sekitar akhir abad ke-XVII. Sekitar abad ke-XIX, mulai dilakukan proses pelapisan sendok yang terbuat dari nikel dan tembaga umum. Di abad ke-XX, tepatnya 1920, perangkat makan anti karat mulai dikenal dan banyak digunakan.
Hingga pada perkembangannya kemudian Sendok dapat terbuat dari berbagai material. Yang paling umum adalah logam, Ada juga sendok yang terbuat dari plastik, umumnya dirancang agar dapat digunakan sekali dan kemudian dibuang. Bahkan kemudian sendok ini berkembang sesuai dengan fungsinya hingga banyak sekali berbagai macam sendok yang diproduksi sesuai dengan fungsinya.
Sumber : sendok dan garpu juga memiliki sejarahhttp://artinya.info/2011/11/sendok-dan-garpu-juga-memiliki-sejarah.html

Minggu, 29 Januari 2012

Bawakaraeng Memiliki Arti Bagi Masyarakat Sekitar

Bawakaraeng adalah suatu penamaan versi terbaru dari gunung yang disakralkan masyarakat Bugis Makassar. Bawakaraeng inilah yang kemudian diekspos secara besar-besaran oleh para antropolog, sosiolog, dan etnographer (peneliti bidang budaya, suku, dan ras) Belanda. Maksud tersembunyi dari penamaan itu agar masyarakat mengalami perubahan atau perombakan keyakinan.

Sebelumnya masyarakat Patuntung meyakini bahwa Tuhan tak bisa disosialisasikan atau dipersamakan dengan apapun dari makhluk ciptaan-Nya.
Kemudian muncul keyakinan baru atau sekte sempalan Patuntung bahwa Tuhan ternyata memiliki gambaran dengan ciptaan-Nya. Persamaan itu yakni Tuhan secara konotatif memiliki mulut pada sebuah gunung. Meskipun hanya secara simbolois. Bawakaraeng adalah symbol dari persamaan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Dari gunung itu, terdapat bagian dari Tuhan yang bias terlihat, terpegang, terinjak dan bias dipuja-puja. Bagian tersebut adalah mulut-Nya. Sekte sempalan itu berhasil dikontrol Belanda menuju suatu keyakinan keberhalaan. Penamaan Bawakaraeng adalah fundamen keberhalaan tersebut.

Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti tersendiri. : “Bawa” yang berarti (mulut) dan “Karaeng” yang berarti (Tuhan). Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.

Masyarakat meyakini jika telah melihat Mulut Tuhan, maka Tuhan bukan lagi yang Maha Ghaib dan juga Maha Tunggal. Ini proses sistematis Belanda dalam kolonialisme spiritual.
Jika keyakinan masyarakat Bugis Makassar runtuh, maka semuanya akan mudah diruntuhkan. Pelan-pelan dan terencana dengan matang, belanda menyortir semua unsur keyakinan tentang Sang Maha Tunggal dan menggantinya dengan Berhala ber-Tuhan Banyak. Jika keyakinan Patuntung diruntuhkan. Maka pada akhirnya keyakinan Islam yang masih belum lama diterima oleh penganut Spiritual Patuntung akan mudah diruntuhkan pula. Sampai sekarang sekte Sempalan Patuntung itu masih ada dan melakukan ritual mistik di Gunung Bawakaraeng. Meskipun unsure ritual itu sudah diadoni dengan bumbu-bumbu ke-Islam-an, tapi karena fundamennya berasal dari keberhalaan bentukan Belanda. Maka ritual itu merupakan suatu Syirik besar, karena mempersekutukan Allah SWT.
Hanya Patuntung versi Kajang yang tidak terpengaruh oleh kolonialisme spiritual ala Bawakaraeng. Nama “Bawakaraeng” tak diakui dalam “Pasang ri Kajang” Belanda sama sekali tidak pernah menjajah atau menduduki Kajang. Tiga kerajaan besar seperti Luwu, Bone dan Gowa, bahkan secara resmi member perlindungan khusus kepada Kajang. Tiga kerajaan itu juga tidak pernah mengekspansi Kajang. Bohe amma Towa, malah menjadi penasehat spiritual di tiga kerajaan, saat terjadi perang antara Gowa dan Bone, Kajang terhindar dari pertikaian berdarah tersebut.
Gowa menganugerahi penguasa territorial Kajang dengan sebutan karaeng (orang yang dimuliakan), tapi istilah “Karaeng” hanya dipakai selama masa jabatan penguasa territorial tersebut, bila masa jabatan berakhir, berakhir pula sebuatan kekaraengan. Jadi di Kajang, tak berlaku istilah Karaeng, sebagaimana lazimnya dalam masyarakat Makassar. Meskipun dari segi wilayah dan suku, kajang masi termasuk suku Makassar, bagi mereka istilah Karaeng tak berarti apapun, kecuali hanya sebagai penghargaan kepada pemerintah. Jadi Karaeng tak pernah bias diartikan sebagai Tuhan atau sesuatu yang di per-Tuhan-kan.
Menurut BapakAbdul Kahar Muslim (Deklarator/pendiri Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan Tokoh Adat Kajang), nama sejati dari Gunung Bawakaraeng tersebut adalah Boho Karaeng. Rincian maknanya adalah “Boho” berarti (Puncak) dan “karaeng” berarti (Kemuliaan). Meskipun namanya adalah “puncak kemuliaan” bukan berarti jika seseorang telah mendaki hingga tringulasi, bererti telah mencapai puncak kemuliaan. Istilah itu didasarkan pada spiritualitas Patuntung yang bersifat Ekologis Sentris. Sifat ini berdasarkan pada satu epicenter Teori yakni manusia, lingkungan, hewan, dan tumbuhan berada dalam satu makrokosmos dan mikrokosmos yang tak terpisahkan.
Mendaki menuju “puncak kemuliaan” berarti siapapun yang berada di Gunung Bawakaraeng tersebut harus berbuat kemuliaan dalam segala niat dan pengalaman. Pendaki tidak boleh melakukan perbuatan terlarang secara etika dan moral. Menurut beliau “Jika kamu sudah mendaki berkali-kali pada BohoKaraeng. Maka belajarlah, latihlah, dan didiklah dirimu selalu dalam kearifan dan kebijakan. Karena itulah makana inti dari kemuliaan pada puncak gunung tersebut.
Gunung Bawakaraeng berjarak kurang lebih 75 km dari kota Makassar.Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai. Bawakaraeng terdiri dari bukit – bukit yang berjejer megah. Bukit tertinggi memiliki tinggi sekira 2.700 meter di atas permukaan laut. Untuk mendakinya sampai ke puncak, kita harus menyusuri dua bukit dan 10 pos jalur pendakian. Pepohonan lebat beragam jenis, kabut tipis, sungai kecil, dan pelbagai keindahan alam lainnya akan menghiasi setiap jalur pendakian dari pos ke pos hingga ke puncak.
Sumber : Bawakaraeng memiliki arti bagi masyarakat sekitar

Rabu, 25 Januari 2012

Cokelat, Sejarah Dan Reputasinya

Cokelat boleh jadi merupakan makanan yang paling populer pada hari valentine.
Hari kasih sayang memang sudah berlalu, tetapi mungkin Anda masih menyimpan hadiah cokelat yang diberikan pasangan?

Cokelat sejak lama memiliki reputasi tinggi. Makanan atau minuman yang dibuat dari biji tanaman Cokelat ini berhasil merebut hati banyak orang, tidak cuma karena kelezatannya, tapi juga nilai plus yang dimilikinya dalam memperbaiki suasana hati dan memengaruhi munculnya gelora cinta.

Pohon Cokelat, yang buahnya mengandung biji yang bisa diproses menjadi camilan cokelat, pertama kali ditemukan 2.000 tahun lalu di hutan tropis Amerika. Sementara itu, bangsa Maya merupakan bangsa pertama yang mengonsumsi Cokelat (250-900 SM). Mereka mencampur biji cokelat dengan berbagai bumbu untuk membuat minuman yang dipercaya mujarab.

Bagi bangsa Maya, cokelat merupakan perlambang hidup dan kesuburan. Karena itu, buah cokelat sering ikut hadir dalam ritual religius, termasuk upacara pernikahan dan dipercaya sebagai makanan para dewa.
Di wilayah Meksiko Tengah, bangsa Aztec percaya, orang yang makan biji dari pohon Coklat akan mendapatkan kebijaksanaan dan kekuatan. Mereka juga yakin makanan tersebut mengandung nutrisi yang baik bagi kesehatan dan punya manfaat afrodisiak. Raja Aztec Montezuma bahkan punya kebiasaan minum coklat setiap hari untuk menaikkan libidonya.
Cokelat mulai dibawa ke Eropa pada tahun 1519 setelah Montezuma menawarkan minuman yang berbumbu kepada pengelana Spanyol, Cortez, dan tentaranya. Cortez lalu membawa biji coklat ke Spanyol dan memopulerkannya. Namun, selama berabad-abad minuman coklat lebih dikenal sebagai minuman para bangsawan.
Reputasi Cokelat sebagai makanan afrodisiak sangat terkenal di kalangan bangsawan Perancis. Seni dan literatur bernuansa erotis banyak yang terinspirasi oleh kandungan coklat. Casanova, pengelana dari Italia yang lebih dikenal sebagai penakluk perempuan, diceritakan selalu mengonsumsi coklat sebelum bercinta. Keterkaitan cokelat dengan pembangkit gairah terus bertahan hingga saat ini.
Lalu, sejak kapan cokelat identik dengan perayaan kasih sayang di Hari Valentine? Literatur menyebutkan, sejak abad ke-17, para pasangan sudah mulai memberikan kado di Hari Valentine dan sesuatu yang manis sering dijadikan pilihan. Baru pada tahun 1868, Richard Cadbury memperkenalkan sekotak cokelat sebagai kado Valentine.
Khasiat afrodisiak
Meski para petualang cinta dalam sejarah selalu diceritakan mengonsumsi coklat, ternyata kandungan zat kimia phenylethylamine (PEA) atau “obat cinta” dalam coklat hanya sedikit. PEA ini diyakini dapat memengaruhi mood, perhatian, dan energi. Saat seseorang merasa sangat senang atau euforia, tubuh akan mengeluarkan PEA.
Namun, sejumlah peneliti mengatakan, kandungan flavonoid dalam coklat mampu melenturkan pembuluh darah sehingga aliran darah lancar.
Sumber : cokelat, sejarah dan reputasinya

Senin, 26 Desember 2011

Cokelat, Sejarah Dan Reputasinya


Cokelat boleh jadi merupakan makanan yang paling populer pada hari valentine.
Hari kasih sayang memang sudah berlalu, tetapi mungkin Anda masih menyimpan hadiah cokelat yang diberikan pasangan?

Cokelat sejak lama memiliki reputasi tinggi. Makanan atau minuman yang dibuat dari biji tanaman Cokelat ini berhasil merebut hati banyak orang, tidak cuma karena kelezatannya, tapi juga nilai plus yang dimilikinya dalam memperbaiki suasana hati dan memengaruhi munculnya gelora cinta.

Pohon Cokelat, yang buahnya mengandung biji yang bisa diproses menjadi camilan cokelat, pertama kali ditemukan 2.000 tahun lalu di hutan tropis Amerika. Sementara itu, bangsa Maya merupakan bangsa pertama yang mengonsumsi Cokelat (250-900 SM). Mereka mencampur biji cokelat dengan berbagai bumbu untuk membuat minuman yang dipercaya mujarab.

Bagi bangsa Maya, cokelat merupakan perlambang hidup dan kesuburan. Karena itu, buah cokelat sering ikut hadir dalam ritual religius, termasuk upacara pernikahan dan dipercaya sebagai makanan para dewa.
Di wilayah Meksiko Tengah, bangsa Aztec percaya, orang yang makan biji dari pohon Coklat akan mendapatkan kebijaksanaan dan kekuatan. Mereka juga yakin makanan tersebut mengandung nutrisi yang baik bagi kesehatan dan punya manfaat afrodisiak. Raja Aztec Montezuma bahkan punya kebiasaan minum coklat setiap hari untuk menaikkan libidonya.
Cokelat mulai dibawa ke Eropa pada tahun 1519 setelah Montezuma menawarkan minuman yang berbumbu kepada pengelana Spanyol, Cortez, dan tentaranya. Cortez lalu membawa biji coklat ke Spanyol dan memopulerkannya. Namun, selama berabad-abad minuman coklat lebih dikenal sebagai minuman para bangsawan.
Reputasi Cokelat sebagai makanan afrodisiak sangat terkenal di kalangan bangsawan Perancis. Seni dan literatur bernuansa erotis banyak yang terinspirasi oleh kandungan coklat. Casanova, pengelana dari Italia yang lebih dikenal sebagai penakluk perempuan, diceritakan selalu mengonsumsi coklat sebelum bercinta. Keterkaitan cokelat dengan pembangkit gairah terus bertahan hingga saat ini.
Lalu, sejak kapan cokelat identik dengan perayaan kasih sayang di Hari Valentine? Literatur menyebutkan, sejak abad ke-17, para pasangan sudah mulai memberikan kado di Hari Valentine dan sesuatu yang manis sering dijadikan pilihan. Baru pada tahun 1868, Richard Cadbury memperkenalkan sekotak cokelat sebagai kado Valentine.
Khasiat afrodisiak
Meski para petualang cinta dalam sejarah selalu diceritakan mengonsumsi coklat, ternyata kandungan zat kimia phenylethylamine (PEA) atau “obat cinta” dalam coklat hanya sedikit. PEA ini diyakini dapat memengaruhi mood, perhatian, dan energi. Saat seseorang merasa sangat senang atau euforia, tubuh akan mengeluarkan PEA.
Namun, sejumlah peneliti mengatakan, kandungan flavonoid dalam coklat mampu melenturkan pembuluh darah sehingga aliran darah lancar.
Sumber : cokelat, sejarah dan reputasinyahttp://artinya.info/2011/12/cokelat-sejarah-dan-reputasinya.html

Selasa, 13 Desember 2011

Bawakaraeng Memiliki Arti Bagi Masyarakat Sekitar

Bawakaraeng adalah suatu penamaan versi terbaru dari gunung yang disakralkan masyarakat Bugis Makassar. Bawakaraeng inilah yang kemudian diekspos secara besar-besaran oleh para antropolog, sosiolog, dan etnographer (peneliti bidang budaya, suku, dan ras) Belanda. Maksud tersembunyi dari penamaan itu agar masyarakat mengalami perubahan atau perombakan keyakinan.

Sebelumnya masyarakat Patuntung meyakini bahwa Tuhan tak bisa disosialisasikan atau dipersamakan dengan apapun dari makhluk ciptaan-Nya.
Kemudian muncul keyakinan baru atau sekte sempalan Patuntung bahwa Tuhan ternyata memiliki gambaran dengan ciptaan-Nya. Persamaan itu yakni Tuhan secara konotatif memiliki mulut pada sebuah gunung. Meskipun hanya secara simbolois. Bawakaraeng adalah symbol dari persamaan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Dari gunung itu, terdapat bagian dari Tuhan yang bias terlihat, terpegang, terinjak dan bias dipuja-puja. Bagian tersebut adalah mulut-Nya. Sekte sempalan itu berhasil dikontrol Belanda menuju suatu keyakinan keberhalaan. Penamaan Bawakaraeng adalah fundamen keberhalaan tersebut.

Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti tersendiri. : “Bawa” yang berarti (mulut) dan “Karaeng” yang berarti (Tuhan). Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.

Masyarakat meyakini jika telah melihat Mulut Tuhan, maka Tuhan bukan lagi yang Maha Ghaib dan juga Maha Tunggal. Ini proses sistematis Belanda dalam kolonialisme spiritual.
Jika keyakinan masyarakat Bugis Makassar runtuh, maka semuanya akan mudah diruntuhkan. Pelan-pelan dan terencana dengan matang, belanda menyortir semua unsur keyakinan tentang Sang Maha Tunggal dan menggantinya dengan Berhala ber-Tuhan Banyak. Jika keyakinan Patuntung diruntuhkan. Maka pada akhirnya keyakinan Islam yang masih belum lama diterima oleh penganut Spiritual Patuntung akan mudah diruntuhkan pula. Sampai sekarang sekte Sempalan Patuntung itu masih ada dan melakukan ritual mistik di Gunung Bawakaraeng. Meskipun unsure ritual itu sudah diadoni dengan bumbu-bumbu ke-Islam-an, tapi karena fundamennya berasal dari keberhalaan bentukan Belanda. Maka ritual itu merupakan suatu Syirik besar, karena mempersekutukan Allah SWT.
Hanya Patuntung versi Kajang yang tidak terpengaruh oleh kolonialisme spiritual ala Bawakaraeng. Nama “Bawakaraeng” tak diakui dalam “Pasang ri Kajang” Belanda sama sekali tidak pernah menjajah atau menduduki Kajang. Tiga kerajaan besar seperti Luwu, Bone dan Gowa, bahkan secara resmi member perlindungan khusus kepada Kajang. Tiga kerajaan itu juga tidak pernah mengekspansi Kajang. Bohe amma Towa, malah menjadi penasehat spiritual di tiga kerajaan, saat terjadi perang antara Gowa dan Bone, Kajang terhindar dari pertikaian berdarah tersebut.
Gowa menganugerahi penguasa territorial Kajang dengan sebutan karaeng (orang yang dimuliakan), tapi istilah “Karaeng” hanya dipakai selama masa jabatan penguasa territorial tersebut, bila masa jabatan berakhir, berakhir pula sebuatan kekaraengan. Jadi di Kajang, tak berlaku istilah Karaeng, sebagaimana lazimnya dalam masyarakat Makassar. Meskipun dari segi wilayah dan suku, kajang masi termasuk suku Makassar, bagi mereka istilah Karaeng tak berarti apapun, kecuali hanya sebagai penghargaan kepada pemerintah. Jadi Karaeng tak pernah bias diartikan sebagai Tuhan atau sesuatu yang di per-Tuhan-kan.
Menurut BapakAbdul Kahar Muslim (Deklarator/pendiri Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan Tokoh Adat Kajang), nama sejati dari Gunung Bawakaraeng tersebut adalah Boho Karaeng. Rincian maknanya adalah “Boho” berarti (Puncak) dan “karaeng” berarti (Kemuliaan). Meskipun namanya adalah “puncak kemuliaan” bukan berarti jika seseorang telah mendaki hingga tringulasi, bererti telah mencapai puncak kemuliaan. Istilah itu didasarkan pada spiritualitas Patuntung yang bersifat Ekologis Sentris. Sifat ini berdasarkan pada satu epicenter Teori yakni manusia, lingkungan, hewan, dan tumbuhan berada dalam satu makrokosmos dan mikrokosmos yang tak terpisahkan.
Mendaki menuju “puncak kemuliaan” berarti siapapun yang berada di Gunung Bawakaraeng tersebut harus berbuat kemuliaan dalam segala niat dan pengalaman. Pendaki tidak boleh melakukan perbuatan terlarang secara etika dan moral. Menurut beliau “Jika kamu sudah mendaki berkali-kali pada BohoKaraeng. Maka belajarlah, latihlah, dan didiklah dirimu selalu dalam kearifan dan kebijakan. Karena itulah makana inti dari kemuliaan pada puncak gunung tersebut.
Gunung Bawakaraeng berjarak kurang lebih 75 km dari kota Makassar.Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai. Bawakaraeng terdiri dari bukit – bukit yang berjejer megah. Bukit tertinggi memiliki tinggi sekira 2.700 meter di atas permukaan laut. Untuk mendakinya sampai ke puncak, kita harus menyusuri dua bukit dan 10 pos jalur pendakian. Pepohonan lebat beragam jenis, kabut tipis, sungai kecil, dan pelbagai keindahan alam lainnya akan menghiasi setiap jalur pendakian dari pos ke pos hingga ke puncak.
Sumber : Bawakaraeng memiliki arti bagi masyarakat sekitarhttp://artinya.info/2011/12/bawakaraeng-memiliki-arti-bagi-masyarakat-sekitar.html