Tampilkan postingan dengan label sel sel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sel sel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

Stroberi Berpotensi Cegah Kanker

Stroberi merupakan buah merah yang cantik dan menggoda. Rasanya yang manis dan sedikit masam membuat buah ini banyak digemari. dalam sebuah penelitian, buah ini mencatat skor tertinggi jumlah antioksidannya.

Stroberi adalah salah satu buah yang berpotensi melawan kanker. Makanan yang mengandung antioksidan, pelawan radikal bebas, selama ini dipercaya akan melindungi tubuh dari bahaya kanker.

Dan antioksidan merupakan senyawa yang bisa melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan oleh bahan-bahan penimbul kanker. Cara bekerja antioksidan, dengan mencegah atau mengganggu proses yang dapat mengarah ke pembentukan sel-sel kanker.

Penelitian yang dilakukan di China menunjukkan orang yang beresiko tinggi menderita kanker esofagus mampu terhindar dari penyakit tersebut setelah rutin mengonsumsi ekstrak buah Stroberi.

Tong Chen, peneliti kanker dari Ohio State Comperhensive Cancer Center, mulai tertarik untuk meneliti manfaat Stroberi pada manusia setelah riset di laboratorium terhadap hewan percobaan menunjukkan buah yang rasanya asam dan segar ini memiliki manfaat anti kanker.
Dalam penelitian yang didanai oleh California Stroberi Commision itu, ia mengamati kesehatan 36 orang yang berasal dari tiga provinsi di China yang terkenal sebagai daerah dengan kasus kanker esofagus tertinggi di dunia.
Chen memberikan bubuk stroberi yang dikeringkan untuk dicampurkan dengan air minum. Pengeringan dengan cara dibekukan merupakan salah satu cara untuk menjaga kandungan penting dalam buah.
Dalam penelitian di lab, Chen menggunakan raspberry hitam, tetapi karena buah itu tidak ada di China ia menggantinya dengan stroberi.
Dalam banyak kasus, kanker esofagus berkembang dari lesi pra-kanker, mulai dari tingkat ringan, sedang dan stadium paling parah. Dari 36 partisipan yang mengonsumsi bubuk stroberi selama 6 bulan, 29 orang mengalami perbaikan stadium, misalnya dari skala sedang menjadi ringan.
“Hasil studi ini sangat menggembirakan karena stroberi terbukti mengurangi histologi tingkat lesi prakanker dan mengurangi pembelahan sel-sel kanker serta inflamasi,” kata Chen.
Walau begitu Chen tidak mau buru-buru menganjurkan stroberi untuk melawan kanker. Studi yang berskala besar, lebih teliti, serta melibatkan jumlah responden yang bervariasi diperlukan untuk mengetahui apakah stroberi memang efektif mencegah kanker atau plasebo.

Selasa, 24 Januari 2012

Bunga Rosela, Penghias Taman Antihipertensi

Bunga Rosela layak dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena bentuk dan warnanya menarik. Sejatinya bunga ini juga dimanfaatkan sebagai herba peredam hipertensi.

Dilihat dari penampilannya, tak salah jika Bunga Rosela dimasukkan dalam kategori tanaman hias. Warnanya cerah menyegarkan, pas jika ditanam sebagai penghias taman. Meski begitu, tanaman yang memiliki nama Latin Hisbiscus sabdariffa ini juga berkhasiat meredam tumor, antiradang, antihipertensi, dan memperlancar buang air besar.

Kelopak Bunga Rosela bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk seduhan, seperti teh. Bahkan, kini sudah biasa diolah dalam bentuk sirop, selai, dan minuman lain. Tanaman herba yang juga dikenal sebagai penghasil serat ini dapat diolah menjadi campuran salad, puding, juga asinan. Kelopak Bunga Rosela mengandung vitamin C, vitamin A, dan asam amino. Asam amino yang diperlukan tubuh, 18 di antaranya terdapat dalam kelopak Bunga Rosela, termasuk arginin dan legnin, yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh.
Kelopak Bunga Rosela  juga mengandung protein dan kalsium. Sebagai obat tradisional, rosela berkhasiat sebagai antiseptik, aprodisiak, diuretik, pelarut, sedatif, dan tonik.
Kaya Antioksidan
Popularitas Bunga Rosela inilah yang kemudian mendorong para ilmuwan untuk meneliti kandungannya lebih lanjut, seorang di antaranya, Ir. Didah Nurfarida MSi, dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor. Tahun 2006, Didah mengungkapkan bahwa kandungan antioksidan pada teh kelopak merah (Bunga Rosela), jumlahnya 1,7 mmol/prolox, lebih tinggi dibandingkan dengan kumis kucing, yang sudah teruji klinis dapat meluruhkan batu ginjal.
Jumlah antioksidan itu diperoleh dengan menggerus 3 kuntum rosela yang telah dikeringkan, kira-kira sebanyak 1,5 gram. Setelah diberi air 200 ml, lalu dimasukkan ke spektrofotometer. Alat itu menganalisis seluruh kandungan kimia berdasarkan panjang gelombang yang dibiaskan larutan.
Dengan keberadaan antioksidan, sel-sel radikal bebas yang merusak inti sel dapat dihilangkan. Itu sebabnya Bunga Rosela memiliki efek antikanker. Kandungan yang paling berperan adalah antosianin atau pigmen tumbuhan yang bertanggung jawab menghindarkan dari kerusakan sel akibat paparan sinar ultraviolet berlebih.
Di Selandia Baru, John McIntosh, periset dari Institute of Food Nutrition and Human Health, Massey University, mengekstrak rosela dengan mengeringkan kelopak bunganya pada suhu 50 derajat Celsius selama 36 jam. Tiga gram rosela hasil pengeringan diencerkan dalam 300 ml air. Larutan itu dimasukkan ke tabung spektrofotometer. Hasilnya rosela mengandung 51 persen antosianin, antioksidannya 24 persen.
Hasil temuan itulah yang kemudian digunakan Yun-Ching Chang dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, Chung Shan Medical University, Taiwan. Periset itu lalu menguji efektivitas antosianin rosela untuk menghambat sel kanker darah atau leukemia.  Pigmen alami oseile rouge – sebutan rosela di Perancis – tak hanya menghambat pertumbuhan sel kanker, tetapi juga mematikannya. Dosis yang diberikan hanya 0-4 mg/ml rosela. Antosianin yang berpengaruh diberi nama delphinidin 3-sambubioside.
Beberapa penelitian dan riset itu baru praklinis di laboratorium. Belum ada pembuktian efeknya langsung pada manusia. Namun, Tria Novida (35 tahun) merasakan langsung manfaat rosela untuk menurunkan tekanan darah tingginya yang sering mengganggu setengah tahun terakhir ini.  Ibu dua anak itu mengaku kerap pusing, mual, dan panas di kepala. Karena menganggapnya sakit kepala biasa, guru TK ini hanya mengonsumsi obat-obatan bebas. Namun, lama-kelamaan nyeri kepalanya semakin parah. Kepalanya terasa berat. Jika sudah begitu, ia tak sanggup berjalan, apalagi mengajar, karena kehilangan keseimbangan. Saat periksa ke dokter, ia dinyatakan mengidap hipertensi.
Pada akhir Februari lalu, saat berkunjung ke sebuah pameran, ia ditawari seduhan teh hangat berwarna merah. Meski awalnya hanya sebatas mencoba, Ida memutuskan untuk rutin mengonsumsi teh rosela yang terasa sedikit kecut, tetapi lebih menyegarkan daripada teh.  Setelah mengonsumsi selama satu bulan, ia merasa lebih tenang karena kekakuan saraf dan ketegangan leher akibat hipertensi perlahan mulai hilang. Tak hanya itu, tubuh juga lebih bugar dan nyenyak tidur.  Agar lebih yakin, Ida memeriksakan diri ke dokter. Ternyata tekanan darahnya turun 70 poin, dari 190 mmHg menjadi 120 mmHg.
Turun 11,2 Persen.
Khasiat kelopak zuring, sebutan rosela dalam bahasa Belanda, untuk hipertensi juga dibuktikan Abd Al-Aziz Sharaf dari Sudan Research Unit, Institute of African and Asian Studies. Seperti dikutip Planta Medical Journal, kelopak rosela bersifat hipotensif (antihipertensi) dan antikejang.  Sifat antihipertensi itu diuji klinis oleh M. Haji Faraji dan A.H. Haji Tarkhani dari Shaheed Beheshti University of Medical Sciences and Health Services, Teheran, Iran. Sebanyak 54 pasien tekanan darah tinggi di Tehran’s Shariati Hospital dihitung tekanan diastolik dan sistoliknya 15 hari sebelum dan sesudah pengujian.
Pasien diberi secangkir teh seduhan 3 kuntum Bunga Rosela. Setelah 12 hari, nilai sistolik pasien rata-rata turun 11,2 persen, tekanan diastolik turun 10,7 persen. Saat konsumsi rosela dihentikan 3 hari, tekanan sistolik meningkat 7,9 persen, diastolik 5,6 persen. Itu membuktikan rosela memang berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi.
Bunga Rosela tumbuh dari biji/benih dengan ketinggian mencapai satu meter lebih serta mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun. Bunga Rosela berwarna cerah, kelopak bunga (kaliks) berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga raya (sepatu).  bagian Bunga Rosela yang bisa diproses menjadi makanan ialah kaliks yang mempunyai rasa masam. Kelopak Bunga Rosela ini bisa diproses menjadi minuman, jeli, saus, serbuk (teh), atau manisan.
Daun muda Bunga Rosela  bisa juga dimakan sebagai ulam atau salad. Di benua Afrika, biji Rosela dimakan karena dipercaya mengandung minyak tertentu. Di Sudan, Bunga Rosela diproses menjadi karkadeh, minuman tradisional kebanggaan masyarakatnya.
Bagaimana mengolahnya?
Menurut Iwan R. Hudaya, konsultan dan pembudi daya  Bunga Rosela yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Bunga Rosela lebih sering diolah menjadi seduhan, seperti teh.
* Membuat seduhan
Kelopak Bunga Rosela yang sudah dipetik, dijemur di bawah terik matahari (1-2 hari) agar memudahkan pemisahan lidah kelopak (warna merah) dengan bijinya. Berikutnya, kelopak yang sudah dipisahkan dengan biji tersebut dicuci dengan air bersih. Biji yang sudah diangin-anginkan bisa dijadikan bibit.
Kelopak warna merah dijemur selama 3-5 hari. Gunakan penutup dari plastik agar kelopak tidak kena debu. Tanda kelopak sudah cukup kering, kadar air tinggal 4-5 persen, dan akan menjadi bubuk bila diremas. Simpan dalam stoples yang bersih dan kering, lalu tutup rapat.
* Pemakaian
-    Seduh 2-3 gr teh rosela dengan air mendidih hingga larut dan air berubah menjadi kemerahan (seperti membuat air teh), tambahkan potongan jahe atau gula pasir sesuai selera. Untuk yang sedang berdiet, penderita batuk, atau diabetesi, gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung.
-    Selain dapat diramu sendiri, ekstrak Bunga Rosela  juga sudah bisa diperoleh dalam bentuk olahan, dari mulai serbuk hingga bahan seduhan seperti teh celup. Harganya bervariasi, mulai Rp 10 ribu. Produk rosela yang baik kualitasnya dapat dibeli di toko obat terpercaya dan yang telah diakui oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Sumber : bunga rosela, penghias taman antihipertensi

Selasa, 13 Desember 2011

Teh Juga Baik Untuk Sel Otak

Teh ternyata tak hanya baik dalam menjaga kesehatan pembuluh darah Anda. Para ahli dari Singapura baru-baru ini melaporkan bahwa minuman dari pucuk daun alami ini juga sangat bermanfaat bagi otak yakni dapat memperlambat proses degenerasi sel-sel serta menjaga pikiran Anda tetap tajam menjelang usia senja.

Professor Ng Tze Pin dari Departemen Kedokteran Psikologi Universitas Nasional Singapura, seperti dilaporkan The Sunday Times telah merampungkan penelitian selama empat tahun untuk mengungkap manfaat dan kebaikan Teh bagi otak.
¨Setiap jenis Teh dapat memberikan manfaat. Teh itu murah, tidak beracun dan dikonsumsi secara luas,” ungkap Ng .
Bersama timnya, Ng menemukan bahwa senyawa alami dalam Teh yang disebut catechins, dapat melindungi sel-sel otak dari kerusakan akibat  akumulasi protein yang berlangsung selama bertahun-tahun. Dampak proteksi yang dihasilkan dari kebisaaan meminum Teh ini diyakini mampu memelihara kemampuan kognitif otak.
Peneliti menambahkan , kandungan kafein dalam Teh, tidak seperti dalam kopi, mengandung sejenis protein alami yang disebut theanine.  Zat in dapat meredam  efek samping yang normal dari kafein seperti peningkatan tensi darah, sakit kepala dan kelelahan.
Degenerasi sel-sel otak, yang disebabkan oleh kombinasi hilangnya sel-sel syaraf, predisposisi gen-gen, stroke ringan dan meningkatnya kadar protein yang merugikan, seringkali mengakibatkan timbulnya penyakit kepikunan atau demensia.
Untuk sampai pada kesimpulan, para peneliti menggelar riset dengan cara  memantau kebiasaan meminum Teh sekitar 2.501 partisipan keturunan China berusia 55 tahun. Riset ini digelar mulai September 2003 hingga Desember 2005.
Dalam riset ini, kesehatan partisipan, rentang perhatian, penggunaan bahasa, penglihatan dan and kemampuan spasial dipantau. Konsumsi  teh mereka juga terus dimonitor.
Dari data penelitian terungkap, sekitar 38 persen partisipan tidak meminum teh.  Sekitar 29 persen lainnya hanya meminum sejenis teh sedangkan sisanya mengonsumsi teh dengan berbagai jenis.
Di hasil  riset terungkap bahwa dua pertiga peminum teh mampu mempertahankan skor atau nilai mereka dalam dua kali tes daya ingat dalam selang dua tahun.  Di  antara partisipan yang tak meminum teh, 35 persen menunjukkan penurunan nilai atau skor dengan rata-rata sekitat dua poin.  Penurunan ini menurut peneliti merupakan tanda signifikan dari memburuknya kemampua kognitif.

Menurut peneliti, Teh adalah salah satu faktor pembeda yang membuat sel-sel otak tetap aktif dan bertenaga.

Meminum Teh, tanpa didukung kebiasaan sehat lainnya, sebenarnya tidak akan mendatangkan manfaat . “Ini berarti Anda harus memiliki kebiasaan yang sehat sepanjang hidup dan diet yang seimbang,” Ungkap Ng.